Headlines News :
Tampilkan postingan dengan label Sharing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sharing. Tampilkan semua postingan

Dunia Baruku 2 (Share Forum Akademik di Aussie)

Written By Apa Kabar Unesa on Minggu, 08 April 2012 | 19.46

Membaca pengalaman `baru' mbak Ikit, saya jadi ingat pengalaman saya saat ikut Masterclass hari Jum'at yang lalu. Bermula dari kebuntuan saya dalam meneruskan draft proposal, supervisor menyarankan untuk ikut Masterclass series dengan isu `Reception and Readerships.' Saya langsung sign up, karena topic ini memang menjadi bagian penelitian saya. Dalam bayangan saya, masterclass ini adalah semacam seminar atau kuliah umum, yang pesertanya mahasiswa S2/S3 di sekitar Melbourne area. Masterclass ini sendiri diadakan oleh Media & Communication Program di Monash University. Meski begitu, kuliah diadakan di The Wheeler Centre di pusat kota Melbourne. 

Saya masuk ke gang kecil di Little Lonsdale Street, di sisi kiri belakang Victoria State Library, mencari-cari di mana letak The Wheeler Centre. Begitu saya mendapati gedung berarsitektur Victorian ini, saya tercenung dengan berbagai tulisan dan poster tentang event-event yang diselenggarakan institusi ini. Atmosfer dunia menulis dan sastra sangat terasa di sepanjang lorong. The Wheeler Centre. Books. Writing. Ideas. Pantas saja Unesco memberi gelar Melbourne sebagai the city of literature. Komitmen pemerintah kota terhadap perkembangan dunia literasi nampak dari penuhnya kalender resensi buku, diskusi film dan media, dan berbagai kegiatan tentang literasi. (www.wheelercentre.com).

Di ujung tangga, seseorang menyapa. "Hi, are you here for the masterclass.? I'm Jinna. Let's go upstairs." Aku dan kawanku Shu Min dari Singapore beranjak ke ruang atas mengikuti dia. Baru saya tahu kemudian bahwa di adalah Dr. Jinna Tay, ketua panitia, yang juga dosen di Media & Communication Program di Monash. Satu persatu peserta datang. Ruang yang digunakan ternyata kecil. Kursi ditata saling berhadapan. Kuhitung, kursi yang disediakan tidak lebih dari 20 orang. Padahal kuliahnya mulai pukul 9 pagi sampai 4 sore. Wah, ini kayaknya bukan kuliah umum deh!

Begitulah, ternyata forum-forum akademik yang selama ini sempat saya ikuti lebih terasa seperti diskusi daripada kuliah. Tidak peduli pembicaranya professor ulung, jumlah peserta tidak akan mempengaruhi kualitas diskursi akademik. Kali ini pembicaranya adalah Prof. Sue Turnbull dari Media and Communications, The University of Wollongong. Sosok akademisi yang cukup terkenal sebagai `celebrity di radio dan TV.' Beliau acapkali berbicara sebagai komentator media. Minat penelitiannya di bidang audience research, dan juga sedang mendalami representasi kriminalitas di media, termasuk di antaranya crime fiction. Dengan reputasi seperti ini, berbicara di depan `hanya' 18 orang, yang 5 di antaranya adalah panitia dari Monash (semuanya doctor atau Associate Professor), semangat berbagi yang ditunjukkan Prof. Turnbull terasa mengagumkan. Saya tidak tahu apakah suasana yang sama akan ditemukan juga bila seorang professor terkenal diundang berbicara, dan pesertanya ternyata hanya kelas kecil. 

Dengan durasi kelas yang panjang itu, tidak mengherankan bila memang panitia dan Prof. Turnbull menginginkan partisipasi aktif peserta. Ini satu hal yang aku kagumi juga. Baik peserta yang sudah professor maupun yang baru merangkak di tangga studi S3 diperlakukan sama. Kami semua diminta menyampaikan minat penelitian, dan bagaimana kaitannya dengan reception studies dan audience research. Ada mahasiswa S2 dari RMIT yang meneliti product design and reception of IKEA. IKEA adalah produk furniture gaya Scandinavia yang sudah terkenal di seluruh penjuru dunia. Yang menarik dari penelitian si Melissa dari Colombia itu, ternyata ada persepsi berbeda antara consumer di negaranya dengan di Australia. Bagi orang Kolombia, IKEA adalah prestige. Simbol modernitas dan status sosial. Bagi orang Australia, IKEA adalah jaminan mutu barang bagus dengan harga terjangkau. Temanku Shu Min meneliti reception of sexual minorities in Japanese mainstream media and subculture. Saya sendiri akan menengok berbagi sisi budaya yang bisa terkuak dari karya-karya buruh migran, termasuk di antaranya, bagaimana `sastra Buruh Migran' diresepsi oleh masyarakat pembaca di Indonesia. 

Dengan berbagai topik dan model penelitian yang bergulir dalam diskusi, Prof. Turnbull ikut lebur dalam antusiasme diskusi. Baik saat sesi kelompok maupun panel. Peserta yang lebih senior juga memberi masukan bagi peserta yang masih `krucuk' seperti saya. Bahkan saat kelas berakhir, Prof. Turnbull menawarkan diri untuk menjadi referee bagi siapapun yang hadir yang berminat mengirimkan artikel ilmiah di jurnal yang dia review. Saya membatin, beginilah seharusnya seorang akademisi membagikan ilmunya. Yang lebih pinter dan berpengalaman mencoba menunduk dan berjongkok agar bisa sejajar dengan mereka yang butuh dibimbing. 

Mengingat kembali suasana akademik di institusi pendidikan di Indonesia. Sudah bukan jamannya lagi forum ilmiah diisi dengan pertanyaan yang maunya kritis tapi sebenarnya membantai. Meski saya pribadi justru berupaya berbicara semenarik mungkin agar menimbulkan banyak pertanyaan, banyak juga teman yang sudah keder dengan intimidasi tembok ruang seminar. Mungkin di mata meraka, forum ilmiah bisa membuat mereka tersudut atau salah menjawab, dan barangkali si penanya akan 'puas' sudah bisa mengintimidasi. 

Sudah saatnya diskusi akademik bernafaskan niat untuk saling berbagi.Dengan niat begitu, even the hardest comments can be successfully tackled. Itu artinya, si pembicara tidak hanya datang demi selembar sertifikat sebagai presenter. Kalau yang model begini nih, biasanya malah bisik-bisik dulu, "aja melu takon lho ya." 

salam,
tiwik
<tiwik_pr@yahoo.com>

Tana Toraja Family Gathering

Jumat, 6 April 2012

Pagi ini kami berangkat ke Tana Toraja. Kami, teman-teman tim SM-3T beserta keluarga, berjumlah 35 orang. Saya berangkat dengan mas Ayik dan Arga. Bu Kisyani dengan mbak Raras dan mas Ghofur. Bu Trisakti, pak Wasis, pak Warno, pak Wahono, bu Upik, bu Nanik, semua lengkap dengan keluarganya. Beberapa teman yang tidak membawa keluarga adalah prof Ekohariadi, bu Luci, bu Asri, mas Jono,  pak Beni, dan tentu saja, para bujang: Andra, Eko, Wahyu, dan Patni. Maka jadilah prof Ekohariadi menjadi koordinator para bujang.

Dana tour berasal dari tabungan honorarium kegiatan kami, dihimpun sedikit demi sedikit. Keluarga yang ikut dibiayai sendiri oleh masing-masing kita. Yang penting bisa jalan bareng. Refreshing sekaligus 'family gathering'. Kesempatan seperti ini, sungguh sangat langka. Setiap hari diisi kerja, kerja, dan kerja. Berkumpul dengan keluarga, apalagi bisa pergi bersama-sama dengan teman-teman beserta keluarganya juga, merupakan kesempatan yang mahal. Ya, hari ini, akhirnya kami bisa berangkat juga.

Tana Toraja menjadi pilihan, karena sebagian besar dari kami sudah berkali-kali pergi ke Makassar, namun belum sempat mencapai Tana Toraja. Jaraknya yang sejauh kira-kira 8 jam dari Makassar tidak bisa kami capai, karena kehadiran kami di Makasar adalah dalam rangka tugas.

Kami bertolak dari bandara Juanda menumpang Sriwijaya pada pukul 6.30 WIB. Pukul 9.00 WITA kami sampai di bandara Sultan Hasanuddin Makasar. Di gedung terminal, kami bertemu dengan bu Juhrah (PD 2 FT) dan keluarganya. Kami juga bertemu dengan bapak Tri Wrahatnolo (Dekan FT). Beliau berdua ternyata satu pesawat dengan kami. Bu Juhrah yang memang asli dari Makasar itu, akan menjemput keluarganya untuk dibawa ke Jakarta, dan bersama-sama dengan keluarganya yang di Jakarta berangkat umroh. Sedangkan pak Tri Wrahatnolo akan menghadiri pertemuan Aptekindo (Asosiasi Pendidikan Teknologi Kejuruan).

Menjelang keluar dari gedung terminal, sambil menunggu tour leader kami mengurusi bagasi, kami berkumpul, berdiri dengan rapat. Dipimpin prof Ekohariadi dan prof Kisyani, kami berdoa bersama. Kami membaca al Fatihah dan doa kesembuhan untuk bapak Purwohandoko. Beliau kemarin sore dibawa ke rumah sakit karena mendadak sakit. Saat ini beliau sedang dalam keadaan koma. Semoga Allah SWT memberikan kesembuhan untuk beliau. Amin.

Lepas dari bandara, kami menuju ke rumah makan Citra Sudiang. Makan pagi. Pelayananya luamaa sekali. Hampir dua jam waktu habis untuk makan. Sop ikan, kare ayam, ayam lalap. Tak ada yang spesial. Wisata kuliner belum dimulai. Sementara menunggu makanan, saya disibukkan dengan telepon kesana-kemari, ke tim monev dikti, koordinator PPGT, dan koordinator S1-KKT. Rencananya, selasa-rabu minggu depan akan ada monev dari tim dikti. Maka tidak ada pilihan, sambil refreshing pun, koordinasi harus tetap dilakukan.

Tujuan pertama kami adalah  Taman Nasional Bantimurung. Objek menariknya adalah air terjun, goa batu, goa mimpi, dan museum kupu-kupu. Suara alamnya komplit. Air membuncah memecah bebatuan, nyanyian kumbang berbaur dengan kicau burung. Teriakan anak-anak kecil bermain air, dan suara para penjual suvenir menjajakan dagangannya.

Kami keluar dari taman nasional sekitar pukul 14.00 WITA. Enam mobil kijang innova yang mengangkut kami sudah berbaris menunggu muatannya. Ya, tour leader kami menyiapkan kijang innova untuk transportasi. Bukan bus. Alasannya, jalan dari Makasar ke Tana Toraja banyak yang rusak, tidak cukup lebar, sehingga kurang nyaman kalau menggunakan bus. Dan memang benar. Meskipun jalan provinsi, banyak bagian jalan yang rusak berat.  

Kami mampir ke restoran lokal untuk makan siang. Menunya khas. Ayam palekko, masakan dari ayam kampung, berbumbu pedas. Di lidahku, bumbunya berasa seperti paduan antara bumbu rujak dan bumbu kare. Pedas, tajam, gurih. Mengingatkanku pada belut bumbu pedas di Tuban. Menu khas yang lain namanya sokko ikan kering.  Ketan hitam, dibubuhi kelapa, dengan lauk ikan asin tebal digoreng kering. Meskipun ini makanan yang tidak lazim dalam menu kita sehari-hari, tetapi ternyata rasanya enak juga. Anak-anak yang juga mencoba makanan itu,  malahan minta tambah lagi. 

Wisata kuliner dimulai. Besok, di Tana Toraja, kami akan berburu ikan bakar. Sasaran yang lain, tentu saja adalah sop konro, sop sodara, coto makasar, es palluputung, dan es pisang hijau; yang akan kami lahap di Kota Makassar, sekembalinya dari Tana Toraja besok. 

Kami semua meluncur menuju Tana Toraja. Di tengah perjalanan, kami sempat berfoto bersama di jembatan sungai Pare-pare ketika matahari tenggelam dan bulan berwarna jingga muncul di atas hamparan  sungai yang airnya penuh dan bening. Juga singgah di masjid jami yang berdiri di pinggir laut kota Pare-pare untuk menunaikan sholat maghrib. Tentu saja, tidak melewatkan momen itu begitu saja. Berfoto bersama lagi. Oh.  Indahnya senja hari di kota Pare-pare.....

Dan meluncurlah kami melanjutkan perjalanan ke Tana Toraja lagi......

Wassalam,
LN


Haji Brekele!!

Detail, kronologis, dan mendebarkan!! Tiga kata ini setidaknya bisa mewakili buku baru terbitan Maret berjudul "Haji Nekad." 

Buku ini berisi kumpulan tulisan bersambung wartawan Jawa Pos, Haji Bahari. Ia melakukan ibadah haji melalui jalur darat. 

Saya menjumpai buku ini kemarin. Tak pikir panjang, saya langsung membelinya. "Pasti menarik," kataku. 

Adam bertanya, "Buku siapa Yah?" "Pak Haji Brekele. Tuh dulu yang pernah bentak Adam."

Saya dan Bahari, saat dia di Jakartan memang lebih mirip perangko dan sampul surat daripada hanya sekadar sahabat. Kami bertetangga. Satu rmah dibelah dua, di Jalan Adam, Kebayoran Lama. Pergi liputan bersama. Ke lokasi bareng. Pulang boncengan Tiger besar mirip Moto-GP. Hanya tidur saja yang kita pisah ranjang hehe. 

Saya kenal wataknya. Juga kesehariannya. Saat saya punya anak pertama dan lagi senang-senangnya, Adam usia 2 tahun, baru bisa jalan, Brekele, begitu kami saling menyapa, membentak (ngagetin) Adam. Saya mbesengut. Arek cilik digedak, kaget!! Saya kuatir sawanen!! Sebagai Bapak anyar, saya senewen betul.. Hehe.... tapi itulah romantika persahabatan. 

Saya belajar banyak pada Bahari. Tulisannya maknyus. Bukan itu saja. Proses menggali informasi, kegigihannya menembus sumber, dan merangkai pertanyaan, duhh...nggak ada duanya. Juga idealismenya. "Ini yang mahal." Idealisme!! 

Dia nyaris nggak peduli pada aturan redaksi. Apalagi sama atasannya. Jika dirasakan gak masuk akal, siap-siap dapat perlawanan sengit darinya. Baginya, wartawan itu independen dan idealis, bertanggung jawab. Ini tak bisa ditawar. 

Saya amat bersyukur tandem dengannya. Kejeliannya patut diacungi jempol. Juga keberaniannya. Itu pula yang membawa saya berani masuk ke sarang Soeharto, presiden junta militer orde baru. Nekad!! 

Bahari sebelum ke Mekkah juga perag menguji nyalinya ke Afghanistan. Saat AS menyerang ke negeri "Osama" itu. Di saat watawan lain melaporkan dari perbatasan, Bahari berhasil berpetualang dengan komandan lapangan Taliban. Cak Sol bisa cerita banyak soal ini.

Saat OPM mengganas, dia berhasil mask ke kota tembaga pura yang sanggat tertutup. Ada banyak akalnya untuk mengelabuhi petugas. 

Buku ini merupakan petualangan lainnya. Juga uji nyalinya. Mati? Jangan tanya. Dia selalu bilang, "Mati takdir Ilahi. Di mana pun bisa mati. Bahkan di kasur saat senang-senang sama lonthe!!" 

Awalnya memegang buku ini saya langsung membuka halaman saat Bahari ingin memasuki Myanmar. Awalnya saya menggerutu. "Tulisan brekele kok jadi kaku begini." Saya khawatir campur tangan redaktur membuat tulisannya garing dan sakral. Biasanya renyah dan mengalir. Tapi saya teruskan membaca pada bab yang saya penasaran. (Saya memang jarang membaca buku secara berurutan, kecuali buku yang saya anggap harus dibaca dari depan seperti buku Adolf Hitler: Mein Kampf. Awalnya saya baca di halaman 722, tapi akhirnya saya putuskan membaca dari bab awal).

Tulisan reportase ini menarik. Sangat detail dan kronologis. Lengkap dengan kisah-kisah petualangan yang menegangkan. 

Sayang, Bahari tipe wartawan sejati. Dia jarang melibatkan emosinya di sini. Wartawan selalu melaporkan kejadian. Sulit sekali menukilkan emosinya sendiri, perasaannya sendiri, yang menyertai peristiwa. Intinya "nggak boleh onani." 

Namun, andai sedikit diberi polesan emosisnya, saya yakin buku ini tambah menarik. Saat dia tak bisa masuk Myanmar. Saat perjalanan di kopaja bersama mahasiswa, bejibun barang bawaan, dan tak bisa bergerak, saat akan ditahan imigrasi, dan saat memasuki kota Mekah. Saya jadi ingat tulisan Prof Ela. Gaya reportase prof ela lebih mengumba emosinya daripada melaporkan peristiwanya. Ini terjadi karena beda tujuan ketika tulisan dibuat. Bahari menulis untuk pembaca JP. Prof ela menulis untuk dirinya sendiri. Syukur syukur dibaca miliser.

Buku ini penting dibaca calon penulis, siswa sd, sm, sma, mahasiswa. Setidaknya bisa dipakai pijakan bagaimana cara menulis reportase ang menarik dan menegangkan!

Bravo Pak Haji Brekele..!!
Salam
Habe Arifin 


Revolusi Putih: mengganyang kebodohan, mencerdaskan bangsa

Berita

Sharing

 
Support : Creating Website | Johny Template | Maskolis | Johny Portal | Johny Magazine | Johny News | Johny Demosite
Copyright © 2011. Apa Kabar Unesa - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger